Jumat, 14 Juni 2013

Perjalanan kakek saya ketika beliau menambang belerang.

Pada jaman dahulu pembukaan sebuah kawah ijen .. Dan pada tahun 1964, Dirintis oleh masyarakat desa wilayah LICIN.

Dari desa Tamansari menuju kawah ijen, Dan itu sejauh 36 kilometer, Dengan jarak tempuh jalan kaki .. jika berangkat jam 7 malam dan sampai di kawah sekitar jam 9 pagi, Itu bukan sampai di penambangan tapi sampai di pondok bunder. Karena dari penambangan belerang sudah ada pengangkut khusus, Sebab untuk mendapatkan sebuah belerang harus menyeberang danau ijen, dan aktivitas tersebut memiliki lama kurang lebih 2 tahun.

Ketika belerang itu terlihat memiliki sebuah penghasil yang bagus ... Jadilah perebutan wilayah perbatasan, yaitu: Banyuwangi dan Bondowoso.

Hingga bondowoso mengeluarkan tentara (Atau disebut Armet) dan mereka menembaki (Merusak) PERAHU, Jadi yang digunakan untuk menyebrangi danau ijen. Kejadian perebutan wilayah ini hanya kurang lebih 2 bulan.

Setelah damai dimulai aktifitas kembali, tapi tidak menggunakan sebuah perahu lagi, Melainkan membuat jalan yang sekarang digunakan. Proses pembuatan kurang lebih 30 hari, dan sudah bisa di lalui untuk menambang, Itu pun masih sangat amat sulit untuk turun dari puncak ijen. Mereka beraktivitas ketika mendapatkan sepikul belerang .. Dan mereka berhenti kemudian melanjutkan kembali membuat jalan agar semakin mudah dilalui.

Jumlah orang yang ikut membuat jalan hanya 5 orang yang berjuang, Dan itu salah satu dari mereka termasuk kakek saya. Untuk pembuatan jalan dan mereka harus memberi sabuk pengaman berupa tampar dan menggunakan GANCO .. Mereka bekerja sama untuk mengulur badan mereka pada tebing, hingga bisa dilewati, Dan mereka beraktivitas hari demi hari. Ketika bisa dilewati mereka setiap akan menambang .. Juga selalu meningkatkan pembetulan jalan hingga benar-benar bisa dilalui hingga seperti sekarang.

Untuk tempat penambangan dulunya (yang dikenal warga dengan sebutan dapur) itu hanya 9 dapur tempat mengambil belerang dan itu tidak menggunakan pipa besi tapi menggunakan batu yang di tata serupa pipa, jadi untuk aliran belerang.

Kembali lagi cerita diatas, bahwa dari pondok BUNDER dan menuju penambangan kemudian kembali ke pondok BUNDER lagi, itu menempuh jalan kaki selama 6 jam (karena jalan masih sulit dilalui), Karena tidak hanya mencari hasil mengambil belerang, tetapi mereka sambil membetulkan jalan untuk turun ke penambangan, dan itu dilakukan setiap hari.

Ketika pada tahun 1972 hingga 1975. Terjadi perebutan kembali, Tapi tidak dengan cara merusak, Jadi dari Bondowoso mengeluarkan tentara Kodim .. Untuk menghentikan warga yang beraktivitas dari Banyuwangi. Dan dalam jangka waktu 3 tahun, Ketika belerang banyak tertimbun .. Jadi mereka bingung untuk memasarkan .. Pada akhirnya terjadilah damai kembali dan beraktivitas seperti biasa.

Ketika itu yang meninggal 3 orang ( Bernama Bapak: Jan, Banuri dan yang satu kakek lupa namanya). kemudian lainya mereka menderita luka dalam dan 4 orang ( Bernama Bapak: Adis, Madroji, Bohari dan yang satu kakek lupa namanya) tidak sampai meninggal, Kejadian itu 1982 dan gas yang sangat besar, Kemudian mematikan.

Jika dari desa kami, Kakek melakukan perjalanan pada jam 7 malam dan menggunakan penerangan obor hingga sampai ditempat mengambil belerang pada jam 9 pagi, kemudian kembali ke desa sambil memikul belerang seberat 45 kilogram rata-rata, Ketika sampai penimbangan di desa kami pada jam 10 malam, Itu selalu berhenti ketika mereka capek ..

Kemudian mereka sampai di penimbangan (desa kami) untuk upah segera mereka tukar dengan sebutir beras dan hanya mendapatkan 4,5 kilo gram beras, Dan itu untuk 100 kilo berat belerang hanya mendapatkan sebesar uang 45 rupiah. jika harus menunggu upah dari penampung, Itu harus menunggu selama 1 bulan baru di bayar, Disebabkan  karena untuk pemasaran masih sulit ...  Warga penambang itu tidak setiap hari mengambil belerang, karena jika setiap hari mereka tidak mampu sebab sangat melelahkan .. Dan rasa pegal di seluruh badan tak hilang dalam waktu 3 hari bahkan lebih ... Kemudian menuju perjalanan yang sangat jauh (2 malam dan 1 hari).

Di atas adalah cuplikan cerita seingat Bapak ketika Bersama kakek dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar